Aku adalah muslimah sejak lahir, dan sungguh bersyukur untuk itu. Dari kecil hingga kini, aku diajarkan nilai-nilai Islami dan dicontohkan tata cara ibadah yang baik dan benar. Semua kujalani dengan penuh kebahagiaan. Saat kelas 5 SD, aku sudah dibiasakan menggunakan hijab ke sekolah dan ke acara-acara tertentu. Walaupun di lingkungan rumah aku tidak menggunakannya, tapi aneh rasanya bila bepergian tanpa hijab.
Setamat SD, aku diasramakan di pondok pesantren hingga menamatkan sekolah menengah atasku. Aku nyantri selama 6 tahun disana. Suasana Islami benar-benar kualami sepanjang hidupku. Sholat, puasa, zakat, hingga berhaji alhamdulillah telah kutunaikan. Syahadat bahkan setiap sholat kuikrarkan. Rukun Islam yang lima telah sempurna kulaksanakan. Rukun iman yang enam pun sepenuh hati kuyakini. Namun cukupkah itu? Hatiku menjawab, "Tidak". Kalau begitu, dimana kurangnya?
Setelah kuamati, ternyata yang kurang adalah ruh ibadah-ibadah yang kulakukan. Terkadang aku sholat, tapi hanya sekedar sholat, tak ada khusyu'. Seringkali saat puasa, aku masih mengghibah, masih melalaikan sholat, lebih banyak tidur. Membaca al-Qur'an malas-malasan. Bersedekah diumbar-umbar dan sangat sedikit. Tak ada gairah dalam beribadah, hanya sekedar menunaikan kewajiban. Yang penting sudah dilakukan, kualitas urusan belakang, atau bahkan tak masuk hitungan.
Bertambah usia alhamdulillah bertambah pula kedewasaanku mengenal Allah, meneladani Rasulullah saw dan memahami Islam. Hingga kusadari khilafku, salahku, dan keliruku memaknai agamaku. Kini, kuikrarkan di hati, ingin menjadi muslimah sebenarnya. Akan kumasuki Islam secara keseluruhan. Seperti firman Allah, udkhuluu fissilmi kaaffah. "Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan". Takkan kusia-siakan hidupku dengan hanya menjadi muslimah sekedarnya. In syaa Allah.
#30DWCHari18
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 18 Desember 2016
Sabtu, 03 Desember 2016
Menjadi Duta Islam
Menjadi muslim bukanlah status semata. Ada kewajiban yang harus ditunaikan dan larangan yang harus ditinggalkan. Di antara kewajiban muslim adalah memperkenalkan dan menampilkan wajah Islam melalui sikap dan tutur katanya. Sehingga orang-orang akan mengenal dan menilai Islam melaluinya sebagai bagian dari Islam itu sendiri. Inilah yang kemudian disebut dengan 'menjadi duta Islam'.
Semua muslim sejatinya adalah duta Islam. Seperti layaknya duta pariwisata atau duta PBB yang mungkin lebih familiar di telinga kita, duta Islam bertanggungjawab memperkenalkan Islam pada orang-orang di sekitarnya dengan bersikap sesuai ajaran Islam dan menampilkan nilai-nilai Islami sebagai kepribadiannya. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah Islam seperti apa yang kita promisikan selama ini?
Berkaca pada aksi super damai yang baru dilakukan jutaan umat Islam Indonesia kemarin (Jum'at, 2 Desember 2016), Islam santun dan cinta damai alhamdulillah berhasil mereka tampilkan dengan indah. Tontonan yang bahkan menjadi konsumsi dunia dan insya Allah akan menjadi tuntunan bagi muslim lainnya di seluruh dunia.
Rasa syukur dan bangga menyelimuti hati, meski berada jauh dari tempat aksi. Bersyukur karena tak ada yang mencederai aksi super damai tersebut. Berbangga karena menjadi bagian dari agama Allah yang indah ini. Menjadi bagian dari potret muslim Indonesia. Sungguh mereka yang ambil bagian dalam aksi super damai kemarin telah menjadi duta Islam sejati.
Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita telah menjadi duta Islam sejati? Yang menampilkan wajah Islam yang indah? Atau kita justru mencoreng wajah Islam dengan sikap kita yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kitalah yang tahu jawabannya. Tanyalah diri masing-masing dan jujurlah menjawabnya.
Apapun jawaban hati, terimalah sebagai introspeksi diri. Belum terlambat memperbaiki diri untuk menjadi duta Islam sejati. Jangan hanya jadi Islam KTP. Tapi jadilah duta Islam sejati. Karena sesungguhnya, identitas Islam juga ada di diri masing-masing kita.
#30DWCHari3
Semua muslim sejatinya adalah duta Islam. Seperti layaknya duta pariwisata atau duta PBB yang mungkin lebih familiar di telinga kita, duta Islam bertanggungjawab memperkenalkan Islam pada orang-orang di sekitarnya dengan bersikap sesuai ajaran Islam dan menampilkan nilai-nilai Islami sebagai kepribadiannya. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah Islam seperti apa yang kita promisikan selama ini?
Berkaca pada aksi super damai yang baru dilakukan jutaan umat Islam Indonesia kemarin (Jum'at, 2 Desember 2016), Islam santun dan cinta damai alhamdulillah berhasil mereka tampilkan dengan indah. Tontonan yang bahkan menjadi konsumsi dunia dan insya Allah akan menjadi tuntunan bagi muslim lainnya di seluruh dunia.
Rasa syukur dan bangga menyelimuti hati, meski berada jauh dari tempat aksi. Bersyukur karena tak ada yang mencederai aksi super damai tersebut. Berbangga karena menjadi bagian dari agama Allah yang indah ini. Menjadi bagian dari potret muslim Indonesia. Sungguh mereka yang ambil bagian dalam aksi super damai kemarin telah menjadi duta Islam sejati.
Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita telah menjadi duta Islam sejati? Yang menampilkan wajah Islam yang indah? Atau kita justru mencoreng wajah Islam dengan sikap kita yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kitalah yang tahu jawabannya. Tanyalah diri masing-masing dan jujurlah menjawabnya.
Apapun jawaban hati, terimalah sebagai introspeksi diri. Belum terlambat memperbaiki diri untuk menjadi duta Islam sejati. Jangan hanya jadi Islam KTP. Tapi jadilah duta Islam sejati. Karena sesungguhnya, identitas Islam juga ada di diri masing-masing kita.
#30DWCHari3
Sabtu, 20 Agustus 2016
Islam is Truly My Choice
It's so impressive for me to see a person who isn't a muslim/muslimah by
birth, but they then become muslim/muslimah by choice. It is super
incredible, amazing and fantastic, beautiful as well. It seems that they
fought for Islam, they fought for becoming a member of ummah.
Then, what about me? I am really grateful that I'm a muslimah by birth. I thank Allah for that. Also I thank my parents and the whole family for teaching and guiding me to be a good muslimah. So, it doesn't mean that since I'm a muslimah by birth, then I'm not a muslimah by choice. I was born to be muslimah, but it doesn't mean that I don't fight for it. I fight to learn. I fight to do the obligations and to leave all the prohibitions year by year, and I'm changed, for the better insya Allah.
Yes, i got it even before my birth, but it is truly my choice. I aware of it. I know what I do. And I'm choosing too. It's not only my parents who choose it for me, but also me who choose it for myself.
I'm a muslimah by birth, and it is truly my choice.
Islam is my choice, then it is my way.
Then, what about me? I am really grateful that I'm a muslimah by birth. I thank Allah for that. Also I thank my parents and the whole family for teaching and guiding me to be a good muslimah. So, it doesn't mean that since I'm a muslimah by birth, then I'm not a muslimah by choice. I was born to be muslimah, but it doesn't mean that I don't fight for it. I fight to learn. I fight to do the obligations and to leave all the prohibitions year by year, and I'm changed, for the better insya Allah.
Yes, i got it even before my birth, but it is truly my choice. I aware of it. I know what I do. And I'm choosing too. It's not only my parents who choose it for me, but also me who choose it for myself.
I'm a muslimah by birth, and it is truly my choice.
Islam is my choice, then it is my way.
Langganan:
Postingan (Atom)