Mengajar dan menulis adalah dua hal yang kugeluti saat ini. Keduanya bisa dilakukan berbarengan, bahkan saling mendukung. Sebagai dosen, tentu tugas utamaku adalah mengajar. Selain itu, ada pula tugas menulis yang diawali dengan meneliti.
Berdasarkan pengalaman, kedua aktivitas tersebut adalah yang paling nyaman dilakukan seorang perempuan. Sudah kualami bekerja dengan LSM di sebuah pulau. Menjadi media officer adalah hal seru untuk seorang fresh graduate sepertiku saat itu. Kendala justru datang dari keluarga, terutama bapak yang kurang setuju dengan keputusanku pergi jauh dari keluarga.
Selanjutnya, aku pernah magang sebagai wartawan selama 3 bulan. Kuputuskan mengakhiri perjalananku setelah masa magang berakhir karena dari sana kutahu bahwa selalu ada kepentingan yang diperjuangkan. Masalahnya, kepentingan mereka tak sejalan dengan kepentinganku.
Lagi-lagi, aku bekerja di media. Saat itu, di sebuah media online. Bertugas sebagai editor, aku bekerja dari pagi menjelang siang hingga malam hari. Setiap hari aku bekerja, bahkan di akhir pekan, meski tidak sepenuh hari. Saat itu, aku layaknya anak kos. Tinggal serumah dengan keluarga, tapi tak ada waktu untuk bercengkerama.
Setelah menyelesaikan S2 dan tak lagi nyaman bekerja sebagai karyawan, kuputuskan menjadi pendidik. Ingin cepat-cepat kuakhiri kerja 'malam'ku. Keselamatan harus selalu diutamakan, begitu pikirku. Langsung kusanggupi tawaran menjadi asisten dosen. Selang dua tahun, aku resmi menjadi dosen.
Kini, sambil mengajar, kunikmati lagi aktivitas merangkai kata. Kurajut lagi mimpi menulis buku. Kuteguhkan hati menjadi peneliti. Karena dosen memang harus meneliti dan menulis. Alhamdulillah fi kulli hal. Aku bersyukur untuk nikmat profesi yang Allah beri.
Bagiku, bahagia adalah saat melakukan hal yang kucintai. Mengajar dan menulis adalah dua hal yang kucintai. Tak pernah terasa sedang bekerja, karena hati hadir di sana. Harapanku adalah menjadi yang terbaik di keduanya. Menjadi sebaik-baik manusia dengan memberi sebanyak-banyak manfaat melalui keduanya. In syaa Allah.
#30DWCHari29
Tampilkan postingan dengan label profesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profesi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 Desember 2016
Sabtu, 10 Desember 2016
Dosen itu...
Sepintas tak ada bedanya dosen dan guru, kecuali tempat dimana mengajar. Singkatnya, dosen adalah pengajar di perguruan tinggi, universitas, sekolah tinggi, institut, akademi atau apapun namanya yang merupakan pendidikan setelah SMA. Sementara guru adalah pengajar di PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA, juga sebutan lainnya yang sederajat.
Tapi benarkah perbedaannya hanya pada tempat mengajarnya? Sungguhkah tugas dosen hanya mengajar? Hanya mentransfer ilmu ke peserta didiknya? Tentu tidak, tapi begitulah anggapan banyak orang, bahkan yang berprofesi sebagai dosen sekalipun.
Dari perbincangan dengan teman-teman dosen, tidak sedikit yang beranggapan bahwa cukuplah bila dosen mengajar saja. Datang tepat waktu ke kelas, menyampaikan materi, memberi tugas, lalu pulang. Di akhir semester, dosen bertugas membuat soal, mengawas ujian, dan pulang. Lalu mengoreksi jawaban mahasiswa dan memberi nilai.
Karena sederet tugas tadi, maka meneliti, menulis dan mempublikasi dirasa sangat membebani dan mengganggu aktivitas mengajar sebagai rutinitas utamanya. Apalagi bila bicara soal mempresentasi, yaitu mengikuti semacam seminar atau pertemuan ilmiah lainnya dan berperan sebagai presenter, hanya sedikit dosen yang menganggapnya.
Sesuai tri dharma perguruan tinggi, ada tiga tugas yang harus ditunaikan dosen. Ketiganya adalah berkaitan dengan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kalau begitu, tugas dosen bukan hanya mengajar, tapi juga meneliti dan mengabdi pada masyarakat. Pertanyaannya, sudahkah aku berperan sebagai sebenar-benarnya dosen? In syaa Allah sedang serius berproses.
Lalu, setelah merenungkannya, kurumuskan tugas dosen menjadi tujuh hal, yaitu mengajar (mentransfer ilmu), memotivasi (mentransfer nilai-nilai kebaikan), meneliti (menemukan hal-hal baru), menulis (menyimpan ide dan gagasan baru dalam tulisan), mempublikasi (menyampaikan ide dan gagasan baru dalam tulisan melalui media), mempresentasi (menyampaikan ide dan gagasan di depan umum dalam pertemuan-pertemuan ilmiah), dan mengabdi pada masyarakat (memberdayakan masyarakat sekitar).
Sebagai dosen, aku ingin menjadi yang terbaik. Menjadi sebaik-baiknya manusia yang paling bermanfaat untuk sesama. Maka bukan hanya tri dharma perguruan tinggi yang ingin kujalankan, tapi tujuh tugas dosen yang telah kurumuskan. In syaa Allah.
#30DWCHari10
Tapi benarkah perbedaannya hanya pada tempat mengajarnya? Sungguhkah tugas dosen hanya mengajar? Hanya mentransfer ilmu ke peserta didiknya? Tentu tidak, tapi begitulah anggapan banyak orang, bahkan yang berprofesi sebagai dosen sekalipun.
Dari perbincangan dengan teman-teman dosen, tidak sedikit yang beranggapan bahwa cukuplah bila dosen mengajar saja. Datang tepat waktu ke kelas, menyampaikan materi, memberi tugas, lalu pulang. Di akhir semester, dosen bertugas membuat soal, mengawas ujian, dan pulang. Lalu mengoreksi jawaban mahasiswa dan memberi nilai.
Karena sederet tugas tadi, maka meneliti, menulis dan mempublikasi dirasa sangat membebani dan mengganggu aktivitas mengajar sebagai rutinitas utamanya. Apalagi bila bicara soal mempresentasi, yaitu mengikuti semacam seminar atau pertemuan ilmiah lainnya dan berperan sebagai presenter, hanya sedikit dosen yang menganggapnya.
Sesuai tri dharma perguruan tinggi, ada tiga tugas yang harus ditunaikan dosen. Ketiganya adalah berkaitan dengan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kalau begitu, tugas dosen bukan hanya mengajar, tapi juga meneliti dan mengabdi pada masyarakat. Pertanyaannya, sudahkah aku berperan sebagai sebenar-benarnya dosen? In syaa Allah sedang serius berproses.
Lalu, setelah merenungkannya, kurumuskan tugas dosen menjadi tujuh hal, yaitu mengajar (mentransfer ilmu), memotivasi (mentransfer nilai-nilai kebaikan), meneliti (menemukan hal-hal baru), menulis (menyimpan ide dan gagasan baru dalam tulisan), mempublikasi (menyampaikan ide dan gagasan baru dalam tulisan melalui media), mempresentasi (menyampaikan ide dan gagasan di depan umum dalam pertemuan-pertemuan ilmiah), dan mengabdi pada masyarakat (memberdayakan masyarakat sekitar).
Sebagai dosen, aku ingin menjadi yang terbaik. Menjadi sebaik-baiknya manusia yang paling bermanfaat untuk sesama. Maka bukan hanya tri dharma perguruan tinggi yang ingin kujalankan, tapi tujuh tugas dosen yang telah kurumuskan. In syaa Allah.
#30DWCHari10
Langganan:
Postingan (Atom)