Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2017

Sembuh dan Menyembuhkan dengan Tulisan

Sesungguhnya menulis tidak butuh modal. Ide tulisan bisa digali dari pengalaman pribadi. Sesederhana apapun hidup seseorang, selalu ada hal menarik yang akan menjadi pelajaran untuk orang lain. Bila dikemas dengan baik, tulisan berdasarkan pengalaman bisa menyembuhkan si penulis (dengan mencurahkan isi hati), dan/atau si pembaca (dengan menginspirasi dan memotivasi). Sebagai langkah awal, fokuslah menyembuhkan diri sendiri. Setelah sukses, jangan mau sembuh sendiri. Bagikan tulisan 'obat'mu pada sebanyak-banyaknya pembaca. Kalau sudah begini, tulisanmu juga bernilai sedekah. In syaa Allah. 

Tulisan yang menyembuhkan adalah tulisan yang hadir dari hati. Jujur dan tidak mengada-ada. Yang hadir dari hati akan sampai pula ke hati. Adakah standar khusus? Tidak. Asal tulisan itu telah terbukti menyembuhkan si penulis, maka tulisan itu in syaa Allah akan menyembuhkan pembacanya. Atau bila si penulis sebenarnya tidak membutuhkan 'obat' itu, tulisan itu akan menyembuhkan bila diniatkan untuk memberi manfaat. Niat menjadi sangat penting karena akan berdampak pada kesan yang diciptakan. Kesan menggurui misalnya, hanya akan tampak bila ada kesombongan di hati. Menempatkan diri sebagai pembaca juga dapat menghilangkan kesan itu.

Tulisan-tulisan itu awalnya memang tak punya fokus. Karena sifatnya menulis apa saja yang dirasa. Tapi bila tulisan yang dihasilkan telah cukup banyak, kita akan menemukan benang merahnya. Selanjutnya, kumpulan tulisan itu bisa kita naik kelaskan menjadi buku. Jangan mundur hanya karena merasa tak ada kesuksesan yang bisa dituliskan. Kita bahkan bisa menuliskan kegagalan untuk menjadi pelajaran. Perkaya tulisan dengan menyampaikan penyebab kegagalan dan solusi mengatasinya. In syaa Allah 
tulisanmu bermanfaat. Bagaimana dengan pemilihan diksi? Tenang. Kemampuan itu akan terasah dengan banyak menulis. Yang penting luruskan niat dulu, karena ia umpama ruh bagi tulisan. Mulai dari manfaat, lalu poles sana-sini dengan diksi yang tepat. 

Menulis sebagai Terapi Jiwa
Kamu tentu masih ingat film Habibie&Ainun yang diangkat dari kisah nyata. Pak Habibie menuliskan ceritanya sebagai terapi jiwa. "Emang pak Habibie kenapa?" Setelah bu Ainun meninggal dunia, pak Habibie bukan lagi orang yang sama. Hatinya rapuh. Dokter memvonisnya menderita psikosomatis malignant. Beliau diberi 4 pilihan. Dirawat di rumah sakit jiwa, dirawat di rumah oleh tim medis Indonesia-Jerman, curhat kepada orang-orang terdekat, atau menulis. Pilihan keempat dipilihnya. Setelah menjadi tulisan, kisahnya justru menyembuhkan banyak pembaca. Banyak jiwa yang 'sembuh' dengan membaca tulisannya.

Ngartis Berbekal Curhat
Siapa tak kenal Raditya Dika? Komedian yang sukses dari tulisan-tulisan curhatnya yang dibukukan dan difilmkan. Seperti tak masuk akal, tapi kesuksesan memang diraihnya dari menulis curhatan. Sekarang Radit resmi bergelar penulis best seller nasional dan juga pemain film. Keren gak tuh? Dan semua bermula dari curhat di atas kertas.

Semua Bisa Menulis
Mungkin pak Habibie dan Raditya Dika dirasa terlalu jauh. Terkenal sih, tapi gak kenal. Makanya, mari menulis dan jadilah terkenal lewat tulisan. Caranya? Mulailah menulis dari hati. Kisahkah pengalaman hidupmu dan niatkan untuk menyembuhkan. Lalu, bagikan kisahmu ke sebanyak-banyaknya pembaca.  Jangan lupa, belajarlah dari kisah orang lain dengan banyak membaca. Dikenal karena tulisan yang menyembuhkan tentu membahagiakan. Bahagianya lagi, kau pun akan terkenal di antara makhluk langit (malaikat) karena tulisanmu bernilai kebaikan. Malaikat takkan sibuk hanya membicangkanmu. Mereka akan senantiasa mendoakanmu. Wallahu a'lam.

Saatnya menjadi penulis yang juga dokter. What Amazing You.

(Disarikan dari diskusi KOUF pertama alumni 30DWC jilid 3. Senin, 20 Februari 2017)

Jumat, 30 Desember 2016

Tulisan yang Menyembuhkan

Hari ini adalah hari terakhir kami menjalani 30DWC (30 Days Writing Challenge). Layaknya pelaksanaan puasa Ramadhan, besok adalah hari raya. Senang tentunya, karena kami bisa melewatinya dengan baik. Sedih juga ada, karena sudah terbiasa menulis bersama-sama.

Lebih dari rasa senang dan sedih, rasa khawatir menyelimutiku. Khawatir kebiasaan hebat ini berhenti sampai malam ini. Khawatir tidak mampu mengarahkan kebiasaan menulis untuk menghasilkan karya-karya terbaik. 

Menulis bagiku adalah mencurahkan isi hati, menyampaikan opini, atau membagikan pengalaman. Apapun isi tulisannya, yang penting adalah seberapa bermanfaat tulisan itu, bagiku (sebagai penulis) dan bagimu (sebagai pembaca). Aku menyebutnya 'tulisan yang menyembuhkan'. 

Sembuh dari rasa sakit, galau, kecewa, atau putus asa. Juga sembuh dari ketidaktahuan, keingintahuan, atau ke'salahtahu'an. Tak perlu jauh kucari ide; kutanya hati, kubuka pikiran, atau kubongkar memori. Semua sudah Allah beri, karena modal utama menulis adalah semangat memberi. 
#30DWCHari30




Kamis, 29 Desember 2016

Mengajar dan Menulis

Mengajar dan menulis adalah dua hal yang kugeluti saat ini. Keduanya bisa dilakukan berbarengan, bahkan saling mendukung. Sebagai dosen, tentu tugas utamaku adalah mengajar. Selain itu, ada pula tugas menulis yang diawali dengan meneliti.

Berdasarkan pengalaman, kedua aktivitas tersebut adalah yang paling nyaman dilakukan seorang perempuan. Sudah kualami bekerja dengan LSM di sebuah pulau. Menjadi media officer adalah hal seru untuk seorang fresh graduate sepertiku saat itu. Kendala justru datang dari keluarga, terutama bapak yang kurang setuju dengan keputusanku pergi jauh dari keluarga.

Selanjutnya, aku pernah magang sebagai wartawan selama 3 bulan. Kuputuskan mengakhiri perjalananku setelah masa magang berakhir karena dari sana kutahu bahwa selalu ada kepentingan yang diperjuangkan. Masalahnya, kepentingan mereka tak sejalan dengan kepentinganku.

Lagi-lagi, aku bekerja di media. Saat itu, di sebuah media online. Bertugas sebagai editor, aku bekerja dari pagi menjelang siang hingga malam hari. Setiap hari aku bekerja, bahkan di akhir pekan, meski tidak sepenuh hari. Saat itu, aku layaknya anak kos. Tinggal serumah dengan keluarga, tapi tak ada waktu untuk bercengkerama.

Setelah menyelesaikan S2 dan tak lagi nyaman bekerja sebagai karyawan, kuputuskan menjadi pendidik. Ingin cepat-cepat kuakhiri kerja 'malam'ku. Keselamatan harus selalu diutamakan, begitu pikirku. Langsung kusanggupi tawaran menjadi asisten dosen. Selang dua tahun, aku resmi menjadi dosen.

Kini, sambil mengajar, kunikmati lagi aktivitas merangkai kata. Kurajut lagi mimpi menulis buku. Kuteguhkan hati menjadi peneliti. Karena dosen memang harus meneliti dan menulis. Alhamdulillah fi kulli hal. Aku bersyukur untuk nikmat profesi yang Allah beri.

Bagiku, bahagia adalah saat melakukan hal yang kucintai. Mengajar dan menulis adalah dua hal yang kucintai. Tak pernah terasa sedang bekerja, karena hati hadir di sana. Harapanku adalah menjadi yang terbaik di keduanya. Menjadi sebaik-baik manusia dengan memberi sebanyak-banyak manfaat melalui keduanya. In syaa Allah.
#30DWCHari29

Selasa, 27 Desember 2016

30DWC yang Menginspirasi

30DWC (30 Days Writing Challenge) adalah tantangan menulis 30 hari yang tidak hanya dimaksudkan untuk menulis selama sebulan saja. Bagaimana kebiasaan menulis yang sudah dibentuk dapat dilanjutkan adalah tujuan utamanya.

Selain kebiasaan menulis yang terbentuk melaluinya, banyak inspirasi yang hadir dari mengikuti tantangan ini. Salah satunya adalah yang kutawarkan pada TEFLIN saat mengikuti seminar internasional baru-baru ini.

TEFLIN adalah organisasi profesi yang mengumpulkan pengajar Bahasa Inggris seluruh Indonesia. Maka, saran yang kusampaikan saat itu adalah mengadaptasi kegiatan 30DWC untuk meningkatkan kemampuan menulis anggota TEFLIN secara online.

Adaptasi yang kumaksud adalah dengan membuat kegiatan serupa bernama 3MWC (3 Months Writing Challenge). Kenapa 3 bulan adalah karena targetnya adalah scientific writing yang membutuhkan banyak referensi plus penelitian.

Mengenai deadline, kusarankan untuk dibuat setiap minggu. Lalu akan ada evaluasi dari para ahli yang kompeten. Selain itu, diskusi semacam KOUF (Kelas Online Upgrading Fighter) akan dilakukan setiap bulan. Hal-hal teknis lainnya kuserahkan pada TEFLIN.

Banyak hal yang sesungguhnya menjadi cerita dari 30DWC. Banyak inspirasi dan ide yang menyegarkan pikiran. Banyak rencana yang terpikirkan dan ingin diwujudkan. Saran tadi hanya sekelumit yang in syaa Allah menjadi kebaikan untuk banyak orang. Aamin.
#30DWCHari26

Senin, 26 Desember 2016

30DWC, Apa dan Mengapa

Hari ini tepat 26 hari aku mengikuti 30DWC (30 Days Writing Challenge, tantangan menulis 30 hari). Di sini, seluruh peserta harus memposting tulisan di blog atau laman menulis lainnya di media sosial setiap hari sebelum pukul sepuluh malam. Setelah itu, menyetor link tulisan ke grup untuk direkap.

Dalam tantangan ini, ada beberapa istilah yang digunakan. Fighter adalah sebutan untuk seluruh peserta. Squad adalah kumpulan sekelompok fighter. Guardian adalah ketua squad. Empire adalah grup besar atau keseluruhan fighter. Ada pula KOUF, yaitu Kelas Online Upgrading Fighter.

Selain menjadi fighter, akupun mengajukan diri dan menyanggupi menjadi guardian. Bila fighter hanya harus mempublikasikan tulisan di blog masing-masing dan menyetorkan linknya ke grup squad, maka guardian  adalah yang bertugas merekap tulisan seluruh fighter di squadnya dan memyetorkannya ke grup empire.

Masih kuingat bagaimana sibuknya aku di hari pertama hingga kupikir tak mungkin bisa kuselesaikan tugasku sebagai fighter, apalagi sebagai guardian. Tapi alhamdulillah aku bisa melewati ujian itu. Hingga hari ketiga, kesulitan masih kurasa. Barulah di hari-hari berikutnya aku lebih santai karena sudah terbiasa.

Selama hampir sebulan, dua kali aku terlambat memposting tulisan. Lalu di hari ke-22 dan 23 aku tak menyetor tulisan karena sibuk dengan presentasiku di sebuah seminar. Walau aku tak bisa menyelesaikan tulisan selama dua hari, namun tugas sebagai guardian tak kutinggalkan begitu saja.

Tugas memberi  feedback (yang datang kemudian) juga kuselesaikan meski kurang maksimal. Tugas membuat quote adalah tugas lain yang sangat menyenangkan. Saat dapat ide, langsung kudesain quoteku dan kushare, berbagi motivasi dan inspirasi.

Alasanku mengikuti tantangan ini adalah untuk membiasakan diri menulis. Setiap hari harus bisa menyelesaikan satu tulisan dengan target dan 'dipaksa'. Keterpaksaan terkadang adalah jalan satu-satunya menuju kesuksesan. Lebih dari pembiasaan, akupun memiliki impian lainnya. Aku ingin menulis dan menerbitkan buku keduaku yang kutargetkan akan mengukuhkan namaku sebagai penulis nasional.

Kini, 4 hari menuju garis finish, stok ide dan semangat semakin menipis. Sempat kurasa bingung akan menulis apa. Alhamdulillah dalam program 30DWC, ada KOUF yang selalu dimaksudkan untuk mengawal seluruh fighters menyelesaikan seluruh tantangan. Malam ini aku tercerahkan. Kuteguhkan hati untuk terus menulis. Teringat tujuan awalku menyanggupi tantangan ini. Bukan hanya sekedar kejar setoran, tapi menghasilkan tulisan yang berkualitas. In syaa Allah.
#30DWCHari22

Selasa, 13 Desember 2016

Menulis Mimpi #Menulis Buku

Di postingan sebelumnya, aku sudah menulis tentang menulis mimpi. Bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan, yaitu listing (membuat daftar), planning (membuat rumusan aktivitas), dan being consistent (mematuhi setiap hal yang telah dirumuskan). Dengan teknik tersebut, semua mimpi dapat dituliskan dan diperjelas arahnya agar dapat diukur tingkat kesuksesan pewujudannya. Kali ini, aku akan menulis salah satu mimpiku, yakni menulis buku. 

Buku impian ini in syaa Allah akan menjadi buku keduaku. Alhamdulillah aku sudah menulis satu buku 'sendiri' dan dua buku 'rame-rame'. Buku 'sendiri' itu kuberi judul "Hidup Nyaman dengan QLC (Quarter Life Crisis) pada Seperempat Abad Usia". Karena beberapa pertimbangan, kuterbitkan buku itu dengan penerbitan swakelola (self-publishing). Peluncurannya dibantu komunitas menulis el-BaTa (Lembaga Baca Tulis) dan diadakan di Perpustakaan Daerah Sumatera Utara. Saat itu, aku sudah resmi menjadi penulis buku, meski hanya skala lokal. Karena itu, kini targetku adalah menjadi penulis nasional dan menginspirasi lebih banyak orang melalui buku keduaku. 

Berdasarkan tiga langkah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka langkah pertama yang kulakukan adalah menuliskan mimpiku menulis buku secara detail. Aku ingin buku keduaku ini diterbitkan oleh penerbit mayor. Launching dan bedah bukunya diadakan secara nasional di Medan (kota asalku) dan di kota-kota besar lain di Indonesia. Buku ini akan mengukuhkan namaku sebagai penulis nasional. Akupun membayangkan akan berbincang dengan Raditya Dika, Andrea Hirata, Habiburrahman el-Shirazy, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja, Afifah Afra Amatullah, Brili Agung, Rezky Firmansyah, dan penulis-penulis Indonesia lainnya sebagai sesama penulis Indonesia. Kutargetkan bukuku ini akan terbit awal tahun, mengawali 2017 mendatang.

Langkah kedua adalah merumuskan agenda untuk mewujudkannya. Hal pertama yang kulakukan adalah mulai ngeblog untuk membiasakan diri menulis. Setelah dulu aku pernah ngeblog dan kandas di tengah jalan, kumulai lagi dengan niat kuat. Kemudian, kuterima tantangan menulis non stop selama 30 hari yang bertajuk 30 Days Writing Challenge. 30DWC sungguh mengubah pandangan dan caraku menulis. Entah terpaksa, dipaksa, atau apa namanya, nyatanya aku telah melewati dua belas hari dengan menulis. Tidak ada hari yang terlewat tanpa menulis. Blogku terasa hidup dengan postingan tulisan-tulisan baru setiap hari. Otakku pun dilatih untuk selalu menghadirkan ide demi mengejar deadline setiap pukul 22.00 WIB. Sungguh exercise yang mencerahkan. Setelah merampungkan tantangan satu bulan ini, aku akan menantang diriku menulis 30 hari non stop dengan tema khusus untuk mewujudkan mimpiku menulis buku. Tergabung di komunitas belajar menulis online memberiku banyak pengetahuan, termasuk strategi menembus penerbit mayor. Akan kuterapkan semua ilmu seraya terus belajar dan bertanya pada ahlinya hingga bukuku benar-benar terbit dan menginspirasi.

Selanjutnya, rumusan rencana berikut jadwal yang telah kubuat akan kupatuhi sebaik-baiknya. Konsistensi dan disiplin adalah kunci, itu yang kupelajari selama ini. Karena kendali sesungguhnya ada padaku. Tidak akan ada yang marah bila aku melanggarnya. Pun tidak ada yang paling bahagia bila aku mematuhinya dibanding aku sendiri. Beruntung aku mengenal dan bisa bergabung dengan 30DWC. Ada reward dan punishment yang diberikan pada masing-masing fighter (sebutan untuk semua peserta). Strategi yang terbukti memotivasi dan membuat ingin menulis dan menulis lagi. Ditambah Kelas Online Upgrading Fighter (KOUF) yang menambah wawasan seputar dunia kepenulisan dan aksi saling dukung agar sama-sama sampai garis finish. In Syaa Allah.
#30DWCHari13

Kamis, 01 Desember 2016

Aksaraku untuk Indonesia

Masih kuingat betapa sulit dan menantangnya tugas akhirku dulu. Saat di pesantren, kami harus menulis paper atau semacam karya ilmiah berbasis kepustakaan. Jika biasanya tugas akhir baru dijumpai di bangku kuliah, kami sudah mengecapnya lebih dulu.

Aku dan teman-teman seangkatan berbondong-bondong meramaikan perpustakaan. Perbincangan seputar judul dan topik yang akan dibahas pun menggema di sekitar kami. Banyak buku yang kubaca untuk mencari inspirasi. Tapi tak ada yang mengilhamiku membuat judul dan memilih materi.

Perhatianku malah tertuju pada hebohnya anak muda merayakan hari Valentine (Valentine's day). Kuputuskan untuk membahasnya dalam paperku. Aku ingin tahu seperti apa Islam memandang perayaan itu. Meski sempat berliku, akhirnya proposalku diterima. Judul paperku, "Pandangan Islam terhadap Tradisi Valentine."

Paperku ini memang menantang, jauh dari "main aman". Pasalnya, hampir tidak ada buku yang mendukung penelitianku. Referensi yang kupakai justru dari artikel-artikel di majalah-majalah Islam yang memang sangat booming kala itu. Sebut saya Annida, Ummi, dan Sabili.

Beberapa teman menyarankan ganti topik, tapi aku sudah terlanjur tertarik. "Ngapain susah-susah, yang penting selesai, ya sudah," begitu seorang teman mengingatkan. Meski penulisan paperku tak semulus teman-teman yang lain, tapi aku sungguh bahagia merampungkannya. Lagipula, dari awal aku sudah menduga plus mengantisipasi lika-likunya.

Tak berselang lama setelah itu, aku sudah resmi menjadi mahasiswi. Kujalani hari-hariku dengan mengkaji dan bersosialisasi. Suatu hari, kubaca selembar Buletin Jum'at. Publikasi sebuah masjid itu ternyata menerima kiriman tulisan. "Saatnya beraksi," sorakku dalam hati.

Kubongkar kotak bukuku. Kuambil paperku dan bersiap membedahnya. Tulisan belasan (atau lebih) lembar itu kuringkas menjadi hanya dua lembar setengah. "Begini lebih pas kayaknya," pikirku sambil tetap mengedit sana sini. Judulnya pun kuganti menjadi "Islam dan Tradisi Valentine."

Kutitipkan tulisanku pada bapak, karena aku tak lagi sholat Jum'at seperti saat di pesantren.Entah berapa minggu menunggu, tulisanku dicetak dan jadi bacaan jama'ah masjid. Bangganya bukan main. Tulisanku layak dibaca publik. Tulisan itu adalah cikal bakal karir menulisku.

Selanjutnya kutulis materi lain dan kupublikasikan melalui koran lokal seperti Harian Waspada, Analisa dan Mimbar Jumat. Mengikuti lomba menulis pun tak ragu kulakukan. Tak selalu mulus memang; kadang diterbitkan, kadang hilang tanpa kabar, kadang menang hadiah jutaan, kadang hanya juara harapan, kadang tak bisa diharapkan.

Akupun pernah merasakan dikritik oleh pejabat yang merasa terganggu dengan tulisanku. Sempat ingin kuakhiri goresan penaku, tapi kuurungkan setelah keluarga menyadarkanku.

Kata mamak, "Dia gak perlu tersinggung dengan tulisan itu, kenapa harus marah? Dan gak ada alasan untuk berhenti, karena yang ditulis gak salah."

Bapak malah menyalamku dan mengucapkan selamat. "Selamat karena sekarang Afifah sudah benar-benar seorang penulis," kata-kata yang justru meyakinkanku untuk melangkah maju.

Setamat kuliah, aku semakin dekat dengan dunia tulis-menulis. Pekerjaan pertamaku adalah menjadi media officer untuk sebuah LSM anak di Simeulue, Aceh. Sempat pula aku menjadi calon wartawan di sebuah harian dan menjadi editor di sebuah media online.

Alhamdulillah sebuah buku sendiri dan beberapa buku "rame-rame" sudah kutulis dan diterbitkan. Meski kadang semangat menulisku pasang surut karena kesibukan lain, tapi keinginan menulis tetap ada di hati. Bahkan seperti obat penenang, setelah menulis aku merasa lepas dan lapang.

Kini sedang kujajal media baru. Meski bukan pertama kalinya menulis di blog, kali ini aku serius. Entah kenapa perayaan 17 Agustusan yang lalu begitu berkesan di hatiku. Semangat yang kurasa adalah ingin membuat bangga ibu pertiwi. Menjadi kebanggaan negeri. Menjadi srikandi di bidang yang kukuasai.

Dunia kepenulisan sudah cukup lama kugeluti dan sungguh kucintai. Aku ingin berprestasi disini. Kudedikasikan tulisan-tulisanku untuk Indonesia. Untuk menginspirasi saudara sebangsa, berbagi ilmu dan pengalaman, dan saling nasehat-menasehati dalam kebaikan. Insya Allah.
#30DWCHari1