Ada tiga pembagian waktu yang umum diketahui masyarakat; masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu adalah masa yang telah dilewati. Masa kini adalah masa yang sedang dijalani. Masa depan adalah masa yang akan dilalui.
Bicara masa depan, banyak yang terjebak dengan mengacuhkan hari ini. Setiap hari disibukkan untuk memiliki masa depan cerah. Pandangan dan pikiran tertuju ke masa depan dengan ragam rencana plus khayalan.
Sampai-sampai, masa kini tidak lagi dihiraukan. Nyatanya, kita seringkali lupa bahwa masa kini adalah masa depan. Lebih spesifik, hari ini adalah masa depan. Potret kita hari ini adalah gambaran masa depan kita.
Sebuah ungkapan Arab menyebutkan,
man yazro' yahshud (Barangsiapa menanam akan menuai). Jelaslah bahwa masa depan kita bisa diprediksi dengan melihat masa kini kita. Itu berarti, hari ini adalah juga penentu.
Jika kita ingin memiliki masa depan yang cerah, hal utama yang harus kita lakukan adalah memperbaiki masa kini kita. Sebagai contoh, kita ingin memiliki rumah dan mobil di masa depan, maka kita harus berusaha di masa kini.
Masa kini sangat luas maknanya. Bisa berarti sebulan ini, dua bulan ini, bahkan setahun ini. Kita perlu pembatasan waktu untuk menghindari penundaan aksi. Maka, masa kini adalah hari ini.
Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan hari ini untuk masa depan impian kita? Adakah yang kita lakukan mengarahkan kita ke sana atau justru sebuah kemunduran? Untuk masa depan cerah, hari ini aku...
#30DWCHari27
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 Desember 2016
Selasa, 13 Desember 2016
Menulis Mimpi #Menulis Buku
Di postingan sebelumnya, aku sudah menulis tentang menulis mimpi. Bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan, yaitu listing (membuat daftar), planning (membuat rumusan aktivitas), dan being consistent (mematuhi setiap hal yang telah dirumuskan). Dengan teknik tersebut, semua mimpi dapat dituliskan dan diperjelas arahnya agar dapat diukur tingkat kesuksesan pewujudannya. Kali ini, aku akan menulis salah satu mimpiku, yakni menulis buku.
Buku impian ini in syaa Allah akan menjadi buku keduaku. Alhamdulillah aku sudah menulis satu buku 'sendiri' dan dua buku 'rame-rame'. Buku 'sendiri' itu kuberi judul "Hidup Nyaman dengan QLC (Quarter Life Crisis) pada Seperempat Abad Usia". Karena beberapa pertimbangan, kuterbitkan buku itu dengan penerbitan swakelola (self-publishing). Peluncurannya dibantu komunitas menulis el-BaTa (Lembaga Baca Tulis) dan diadakan di Perpustakaan Daerah Sumatera Utara. Saat itu, aku sudah resmi menjadi penulis buku, meski hanya skala lokal. Karena itu, kini targetku adalah menjadi penulis nasional dan menginspirasi lebih banyak orang melalui buku keduaku.
Berdasarkan tiga langkah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka langkah pertama yang kulakukan adalah menuliskan mimpiku menulis buku secara detail. Aku ingin buku keduaku ini diterbitkan oleh penerbit mayor. Launching dan bedah bukunya diadakan secara nasional di Medan (kota asalku) dan di kota-kota besar lain di Indonesia. Buku ini akan mengukuhkan namaku sebagai penulis nasional. Akupun membayangkan akan berbincang dengan Raditya Dika, Andrea Hirata, Habiburrahman el-Shirazy, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja, Afifah Afra Amatullah, Brili Agung, Rezky Firmansyah, dan penulis-penulis Indonesia lainnya sebagai sesama penulis Indonesia. Kutargetkan bukuku ini akan terbit awal tahun, mengawali 2017 mendatang.
Langkah kedua adalah merumuskan agenda untuk mewujudkannya. Hal pertama yang kulakukan adalah mulai ngeblog untuk membiasakan diri menulis. Setelah dulu aku pernah ngeblog dan kandas di tengah jalan, kumulai lagi dengan niat kuat. Kemudian, kuterima tantangan menulis non stop selama 30 hari yang bertajuk 30 Days Writing Challenge. 30DWC sungguh mengubah pandangan dan caraku menulis. Entah terpaksa, dipaksa, atau apa namanya, nyatanya aku telah melewati dua belas hari dengan menulis. Tidak ada hari yang terlewat tanpa menulis. Blogku terasa hidup dengan postingan tulisan-tulisan baru setiap hari. Otakku pun dilatih untuk selalu menghadirkan ide demi mengejar deadline setiap pukul 22.00 WIB. Sungguh exercise yang mencerahkan. Setelah merampungkan tantangan satu bulan ini, aku akan menantang diriku menulis 30 hari non stop dengan tema khusus untuk mewujudkan mimpiku menulis buku. Tergabung di komunitas belajar menulis online memberiku banyak pengetahuan, termasuk strategi menembus penerbit mayor. Akan kuterapkan semua ilmu seraya terus belajar dan bertanya pada ahlinya hingga bukuku benar-benar terbit dan menginspirasi.
Selanjutnya, rumusan rencana berikut jadwal yang telah kubuat akan kupatuhi sebaik-baiknya. Konsistensi dan disiplin adalah kunci, itu yang kupelajari selama ini. Karena kendali sesungguhnya ada padaku. Tidak akan ada yang marah bila aku melanggarnya. Pun tidak ada yang paling bahagia bila aku mematuhinya dibanding aku sendiri. Beruntung aku mengenal dan bisa bergabung dengan 30DWC. Ada reward dan punishment yang diberikan pada masing-masing fighter (sebutan untuk semua peserta). Strategi yang terbukti memotivasi dan membuat ingin menulis dan menulis lagi. Ditambah Kelas Online Upgrading Fighter (KOUF) yang menambah wawasan seputar dunia kepenulisan dan aksi saling dukung agar sama-sama sampai garis finish. In Syaa Allah.
#30DWCHari13
Buku impian ini in syaa Allah akan menjadi buku keduaku. Alhamdulillah aku sudah menulis satu buku 'sendiri' dan dua buku 'rame-rame'. Buku 'sendiri' itu kuberi judul "Hidup Nyaman dengan QLC (Quarter Life Crisis) pada Seperempat Abad Usia". Karena beberapa pertimbangan, kuterbitkan buku itu dengan penerbitan swakelola (self-publishing). Peluncurannya dibantu komunitas menulis el-BaTa (Lembaga Baca Tulis) dan diadakan di Perpustakaan Daerah Sumatera Utara. Saat itu, aku sudah resmi menjadi penulis buku, meski hanya skala lokal. Karena itu, kini targetku adalah menjadi penulis nasional dan menginspirasi lebih banyak orang melalui buku keduaku.
Berdasarkan tiga langkah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka langkah pertama yang kulakukan adalah menuliskan mimpiku menulis buku secara detail. Aku ingin buku keduaku ini diterbitkan oleh penerbit mayor. Launching dan bedah bukunya diadakan secara nasional di Medan (kota asalku) dan di kota-kota besar lain di Indonesia. Buku ini akan mengukuhkan namaku sebagai penulis nasional. Akupun membayangkan akan berbincang dengan Raditya Dika, Andrea Hirata, Habiburrahman el-Shirazy, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja, Afifah Afra Amatullah, Brili Agung, Rezky Firmansyah, dan penulis-penulis Indonesia lainnya sebagai sesama penulis Indonesia. Kutargetkan bukuku ini akan terbit awal tahun, mengawali 2017 mendatang.
Langkah kedua adalah merumuskan agenda untuk mewujudkannya. Hal pertama yang kulakukan adalah mulai ngeblog untuk membiasakan diri menulis. Setelah dulu aku pernah ngeblog dan kandas di tengah jalan, kumulai lagi dengan niat kuat. Kemudian, kuterima tantangan menulis non stop selama 30 hari yang bertajuk 30 Days Writing Challenge. 30DWC sungguh mengubah pandangan dan caraku menulis. Entah terpaksa, dipaksa, atau apa namanya, nyatanya aku telah melewati dua belas hari dengan menulis. Tidak ada hari yang terlewat tanpa menulis. Blogku terasa hidup dengan postingan tulisan-tulisan baru setiap hari. Otakku pun dilatih untuk selalu menghadirkan ide demi mengejar deadline setiap pukul 22.00 WIB. Sungguh exercise yang mencerahkan. Setelah merampungkan tantangan satu bulan ini, aku akan menantang diriku menulis 30 hari non stop dengan tema khusus untuk mewujudkan mimpiku menulis buku. Tergabung di komunitas belajar menulis online memberiku banyak pengetahuan, termasuk strategi menembus penerbit mayor. Akan kuterapkan semua ilmu seraya terus belajar dan bertanya pada ahlinya hingga bukuku benar-benar terbit dan menginspirasi.
Selanjutnya, rumusan rencana berikut jadwal yang telah kubuat akan kupatuhi sebaik-baiknya. Konsistensi dan disiplin adalah kunci, itu yang kupelajari selama ini. Karena kendali sesungguhnya ada padaku. Tidak akan ada yang marah bila aku melanggarnya. Pun tidak ada yang paling bahagia bila aku mematuhinya dibanding aku sendiri. Beruntung aku mengenal dan bisa bergabung dengan 30DWC. Ada reward dan punishment yang diberikan pada masing-masing fighter (sebutan untuk semua peserta). Strategi yang terbukti memotivasi dan membuat ingin menulis dan menulis lagi. Ditambah Kelas Online Upgrading Fighter (KOUF) yang menambah wawasan seputar dunia kepenulisan dan aksi saling dukung agar sama-sama sampai garis finish. In Syaa Allah.
#30DWCHari13
Senin, 12 Desember 2016
Menulis Mimpi
Mimpi yang terencana tentu lebih mudah diwujudkan daripada mimpi yang hanya di angan-angan. Merencanakan mimpi adalah hal yang mungkin asing bagi kebanyakan orang. Namun demikian, banyak pula yang telah membuktikan kesuksesan mewujudkan mimpi dengan menuliskannya. Lalu, bagaimana sebenarnya menulis mimpi itu? Berikut ulasannya.
Menulis mimpi dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, tuliskan daftar mimpi yang ingin diraih dalam setahun, lima tahun, sepuluh tahun mendatang, atau lebih lama lagi. Kedua, fokuslah pada masing-masing mimpi dengan merumuskan hal-hal yang harus dilakukan (to do list) untuk mewujudkannya. Ketiga, jadikan rumus suksesmu sebagai pedoman untuk sampai ke puncak impian yang kau idamkan. Mari kita bahas satu persatu.
Saat melakukan langkah pertama, yakni membuat daftar mimpi, pastikan semua mimpi benar-benar-benar termaktub di atas kertas. Tuliskan apapun yang kau impikan. Baik menyangkut pendidikan, kesehatan, travelling, hobi, keluarga, relationship, hingga orang-orang yang ingin kau jumpai. Kuncinya, jangan pernah anggap remeh mimpimu sehingga enggan menuliskannya. Jangan pula anggap lebay mimpimu hingga malu mencantumkannya.
Dalam menuliskan to do list, penting untuk mengetahui kelebihan-kekurangan kita, juga peluang dan ancaman yang mungkin akan dijumpai. Istilah kerennya, analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, and threat). Salah dalam merumuskan akan berdampak salah dalam melakukan sehingga tentu akan berdampak pula pada hasil akhirnya. Jangan terburu-buru dalam merumuskan, tapi berhati-hatilah dan bersikaplah realistis sehingga semua rumusan dapat diaplikasikan dengan baik.
Untuk dapat konsisten melakukan to do list yang telah dirumuskan, tempel rumus suksesmu di tempat yang mudah dilihat sehingga akan terus memotivasi. Perlu pula memiliki buku mimpi khusus yang bisa dibawa kemanapun untuk terus mengingatkan diri yang kadang goyah di tengah. Akan lebih baik bila buku dan tempelan itu diperkuat dengan quote yang akan menggelorakan jiwa untuk terus move on dan move up meraih mimpi.
Demikianlah tiga cara yang bisa kita lakukan sebagai ikhtiar mewujudkan mimpi. Bila selama ini mimpi-mimpi kita dibiarkan berkeliaran di hati dan pikiran tanpa arah tujuan, kini mari mulai menuliskannya. Tidak perlu sungkan atau malu, jujurlah pada diri tentang apa yang diimpikannya. Buat daftar mimpimu, rumuskan to do listmu, lalu biarkan rumusanmu membimbingmu mewujudkan semua mimpi. In Syaa Allah.
#30DWCHari12
Menulis mimpi dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, tuliskan daftar mimpi yang ingin diraih dalam setahun, lima tahun, sepuluh tahun mendatang, atau lebih lama lagi. Kedua, fokuslah pada masing-masing mimpi dengan merumuskan hal-hal yang harus dilakukan (to do list) untuk mewujudkannya. Ketiga, jadikan rumus suksesmu sebagai pedoman untuk sampai ke puncak impian yang kau idamkan. Mari kita bahas satu persatu.
Saat melakukan langkah pertama, yakni membuat daftar mimpi, pastikan semua mimpi benar-benar-benar termaktub di atas kertas. Tuliskan apapun yang kau impikan. Baik menyangkut pendidikan, kesehatan, travelling, hobi, keluarga, relationship, hingga orang-orang yang ingin kau jumpai. Kuncinya, jangan pernah anggap remeh mimpimu sehingga enggan menuliskannya. Jangan pula anggap lebay mimpimu hingga malu mencantumkannya.
Dalam menuliskan to do list, penting untuk mengetahui kelebihan-kekurangan kita, juga peluang dan ancaman yang mungkin akan dijumpai. Istilah kerennya, analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, and threat). Salah dalam merumuskan akan berdampak salah dalam melakukan sehingga tentu akan berdampak pula pada hasil akhirnya. Jangan terburu-buru dalam merumuskan, tapi berhati-hatilah dan bersikaplah realistis sehingga semua rumusan dapat diaplikasikan dengan baik.
Untuk dapat konsisten melakukan to do list yang telah dirumuskan, tempel rumus suksesmu di tempat yang mudah dilihat sehingga akan terus memotivasi. Perlu pula memiliki buku mimpi khusus yang bisa dibawa kemanapun untuk terus mengingatkan diri yang kadang goyah di tengah. Akan lebih baik bila buku dan tempelan itu diperkuat dengan quote yang akan menggelorakan jiwa untuk terus move on dan move up meraih mimpi.
Demikianlah tiga cara yang bisa kita lakukan sebagai ikhtiar mewujudkan mimpi. Bila selama ini mimpi-mimpi kita dibiarkan berkeliaran di hati dan pikiran tanpa arah tujuan, kini mari mulai menuliskannya. Tidak perlu sungkan atau malu, jujurlah pada diri tentang apa yang diimpikannya. Buat daftar mimpimu, rumuskan to do listmu, lalu biarkan rumusanmu membimbingmu mewujudkan semua mimpi. In Syaa Allah.
#30DWCHari12
Kamis, 01 Desember 2016
Aksaraku untuk Indonesia
Masih kuingat betapa sulit dan menantangnya tugas akhirku dulu. Saat di pesantren, kami harus menulis paper atau semacam karya ilmiah berbasis kepustakaan. Jika biasanya tugas akhir baru dijumpai di bangku kuliah, kami sudah mengecapnya lebih dulu.
Aku dan teman-teman seangkatan berbondong-bondong meramaikan perpustakaan. Perbincangan seputar judul dan topik yang akan dibahas pun menggema di sekitar kami. Banyak buku yang kubaca untuk mencari inspirasi. Tapi tak ada yang mengilhamiku membuat judul dan memilih materi.
Perhatianku malah tertuju pada hebohnya anak muda merayakan hari Valentine (Valentine's day). Kuputuskan untuk membahasnya dalam paperku. Aku ingin tahu seperti apa Islam memandang perayaan itu. Meski sempat berliku, akhirnya proposalku diterima. Judul paperku, "Pandangan Islam terhadap Tradisi Valentine."
Paperku ini memang menantang, jauh dari "main aman". Pasalnya, hampir tidak ada buku yang mendukung penelitianku. Referensi yang kupakai justru dari artikel-artikel di majalah-majalah Islam yang memang sangat booming kala itu. Sebut saya Annida, Ummi, dan Sabili.
Beberapa teman menyarankan ganti topik, tapi aku sudah terlanjur tertarik. "Ngapain susah-susah, yang penting selesai, ya sudah," begitu seorang teman mengingatkan. Meski penulisan paperku tak semulus teman-teman yang lain, tapi aku sungguh bahagia merampungkannya. Lagipula, dari awal aku sudah menduga plus mengantisipasi lika-likunya.
Tak berselang lama setelah itu, aku sudah resmi menjadi mahasiswi. Kujalani hari-hariku dengan mengkaji dan bersosialisasi. Suatu hari, kubaca selembar Buletin Jum'at. Publikasi sebuah masjid itu ternyata menerima kiriman tulisan. "Saatnya beraksi," sorakku dalam hati.
Kubongkar kotak bukuku. Kuambil paperku dan bersiap membedahnya. Tulisan belasan (atau lebih) lembar itu kuringkas menjadi hanya dua lembar setengah. "Begini lebih pas kayaknya," pikirku sambil tetap mengedit sana sini. Judulnya pun kuganti menjadi "Islam dan Tradisi Valentine."
Kutitipkan tulisanku pada bapak, karena aku tak lagi sholat Jum'at seperti saat di pesantren.Entah berapa minggu menunggu, tulisanku dicetak dan jadi bacaan jama'ah masjid. Bangganya bukan main. Tulisanku layak dibaca publik. Tulisan itu adalah cikal bakal karir menulisku.
Selanjutnya kutulis materi lain dan kupublikasikan melalui koran lokal seperti Harian Waspada, Analisa dan Mimbar Jumat. Mengikuti lomba menulis pun tak ragu kulakukan. Tak selalu mulus memang; kadang diterbitkan, kadang hilang tanpa kabar, kadang menang hadiah jutaan, kadang hanya juara harapan, kadang tak bisa diharapkan.
Akupun pernah merasakan dikritik oleh pejabat yang merasa terganggu dengan tulisanku. Sempat ingin kuakhiri goresan penaku, tapi kuurungkan setelah keluarga menyadarkanku.
Kata mamak, "Dia gak perlu tersinggung dengan tulisan itu, kenapa harus marah? Dan gak ada alasan untuk berhenti, karena yang ditulis gak salah."
Bapak malah menyalamku dan mengucapkan selamat. "Selamat karena sekarang Afifah sudah benar-benar seorang penulis," kata-kata yang justru meyakinkanku untuk melangkah maju.
Setamat kuliah, aku semakin dekat dengan dunia tulis-menulis. Pekerjaan pertamaku adalah menjadi media officer untuk sebuah LSM anak di Simeulue, Aceh. Sempat pula aku menjadi calon wartawan di sebuah harian dan menjadi editor di sebuah media online.
Alhamdulillah sebuah buku sendiri dan beberapa buku "rame-rame" sudah kutulis dan diterbitkan. Meski kadang semangat menulisku pasang surut karena kesibukan lain, tapi keinginan menulis tetap ada di hati. Bahkan seperti obat penenang, setelah menulis aku merasa lepas dan lapang.
Kini sedang kujajal media baru. Meski bukan pertama kalinya menulis di blog, kali ini aku serius. Entah kenapa perayaan 17 Agustusan yang lalu begitu berkesan di hatiku. Semangat yang kurasa adalah ingin membuat bangga ibu pertiwi. Menjadi kebanggaan negeri. Menjadi srikandi di bidang yang kukuasai.
Dunia kepenulisan sudah cukup lama kugeluti dan sungguh kucintai. Aku ingin berprestasi disini. Kudedikasikan tulisan-tulisanku untuk Indonesia. Untuk menginspirasi saudara sebangsa, berbagi ilmu dan pengalaman, dan saling nasehat-menasehati dalam kebaikan. Insya Allah.
#30DWCHari1
Aku dan teman-teman seangkatan berbondong-bondong meramaikan perpustakaan. Perbincangan seputar judul dan topik yang akan dibahas pun menggema di sekitar kami. Banyak buku yang kubaca untuk mencari inspirasi. Tapi tak ada yang mengilhamiku membuat judul dan memilih materi.
Perhatianku malah tertuju pada hebohnya anak muda merayakan hari Valentine (Valentine's day). Kuputuskan untuk membahasnya dalam paperku. Aku ingin tahu seperti apa Islam memandang perayaan itu. Meski sempat berliku, akhirnya proposalku diterima. Judul paperku, "Pandangan Islam terhadap Tradisi Valentine."
Paperku ini memang menantang, jauh dari "main aman". Pasalnya, hampir tidak ada buku yang mendukung penelitianku. Referensi yang kupakai justru dari artikel-artikel di majalah-majalah Islam yang memang sangat booming kala itu. Sebut saya Annida, Ummi, dan Sabili.
Beberapa teman menyarankan ganti topik, tapi aku sudah terlanjur tertarik. "Ngapain susah-susah, yang penting selesai, ya sudah," begitu seorang teman mengingatkan. Meski penulisan paperku tak semulus teman-teman yang lain, tapi aku sungguh bahagia merampungkannya. Lagipula, dari awal aku sudah menduga plus mengantisipasi lika-likunya.
Tak berselang lama setelah itu, aku sudah resmi menjadi mahasiswi. Kujalani hari-hariku dengan mengkaji dan bersosialisasi. Suatu hari, kubaca selembar Buletin Jum'at. Publikasi sebuah masjid itu ternyata menerima kiriman tulisan. "Saatnya beraksi," sorakku dalam hati.
Kubongkar kotak bukuku. Kuambil paperku dan bersiap membedahnya. Tulisan belasan (atau lebih) lembar itu kuringkas menjadi hanya dua lembar setengah. "Begini lebih pas kayaknya," pikirku sambil tetap mengedit sana sini. Judulnya pun kuganti menjadi "Islam dan Tradisi Valentine."
Kutitipkan tulisanku pada bapak, karena aku tak lagi sholat Jum'at seperti saat di pesantren.Entah berapa minggu menunggu, tulisanku dicetak dan jadi bacaan jama'ah masjid. Bangganya bukan main. Tulisanku layak dibaca publik. Tulisan itu adalah cikal bakal karir menulisku.
Selanjutnya kutulis materi lain dan kupublikasikan melalui koran lokal seperti Harian Waspada, Analisa dan Mimbar Jumat. Mengikuti lomba menulis pun tak ragu kulakukan. Tak selalu mulus memang; kadang diterbitkan, kadang hilang tanpa kabar, kadang menang hadiah jutaan, kadang hanya juara harapan, kadang tak bisa diharapkan.
Akupun pernah merasakan dikritik oleh pejabat yang merasa terganggu dengan tulisanku. Sempat ingin kuakhiri goresan penaku, tapi kuurungkan setelah keluarga menyadarkanku.
Kata mamak, "Dia gak perlu tersinggung dengan tulisan itu, kenapa harus marah? Dan gak ada alasan untuk berhenti, karena yang ditulis gak salah."
Bapak malah menyalamku dan mengucapkan selamat. "Selamat karena sekarang Afifah sudah benar-benar seorang penulis," kata-kata yang justru meyakinkanku untuk melangkah maju.
Setamat kuliah, aku semakin dekat dengan dunia tulis-menulis. Pekerjaan pertamaku adalah menjadi media officer untuk sebuah LSM anak di Simeulue, Aceh. Sempat pula aku menjadi calon wartawan di sebuah harian dan menjadi editor di sebuah media online.
Alhamdulillah sebuah buku sendiri dan beberapa buku "rame-rame" sudah kutulis dan diterbitkan. Meski kadang semangat menulisku pasang surut karena kesibukan lain, tapi keinginan menulis tetap ada di hati. Bahkan seperti obat penenang, setelah menulis aku merasa lepas dan lapang.
Kini sedang kujajal media baru. Meski bukan pertama kalinya menulis di blog, kali ini aku serius. Entah kenapa perayaan 17 Agustusan yang lalu begitu berkesan di hatiku. Semangat yang kurasa adalah ingin membuat bangga ibu pertiwi. Menjadi kebanggaan negeri. Menjadi srikandi di bidang yang kukuasai.
Dunia kepenulisan sudah cukup lama kugeluti dan sungguh kucintai. Aku ingin berprestasi disini. Kudedikasikan tulisan-tulisanku untuk Indonesia. Untuk menginspirasi saudara sebangsa, berbagi ilmu dan pengalaman, dan saling nasehat-menasehati dalam kebaikan. Insya Allah.
#30DWCHari1
Langganan:
Postingan (Atom)