Bukan rasul yang butuh dishalawatin, kitalah yang butuh. Karena shalawat itu doa, dan doa akan kembali pada yang mendoakan. Ibaratnya gini, ibarat yang jauuuuhhhhh banget, hanya untuk memudahkan pemahaman. Ada artis keren, main film udah banyak. Jadi bintang iklan udah sering. Ikutan talkshow udah gak keitung. Terus kita endorse tuh artis di hadapan produser. Gak bosan-bosan ngendorse. Saban hari. Berkali-kali. Emang si artis butuh endorse kita? Gak sama sekali. Jadwalnya udah super padat. Produser juga susah ngajak kerjasama. Saking sibuknya. Yang ada, kita yang mengendorse si artis jadi perhatian si produser. "Segitu ngefansnya ya sama artis itu?", gitu kira-kira pikir si produser.
Terus kita dipanggil, diajak ke ruang kerjanya. Ditanyain ini-itu. Akhirnya malah ditawarin jadi pemeran pembantu di sinetron stripingnya. Kesal juga kali si produser didatangin terus. Jadi kita dikasi kesibukan aja biar diam. Eh kalau serius aktingnya, bisa jadi 1-2 tahun setelahnya si artis keren yang malah ngefans sama kita. Gantian doi yang ngendorse kita ke si produser. Aihhh, jadilah si produser satuin kita di film terbarunya, "Endorse Aku, Kau Ku Endorse".
Balik lagi ke shalawat ya. Jadi gitu, yang butuh shalawat itu kita, bukan rasul. Gak kita doain pun, Rasulullah itu kekasih Allah. Terjamin kebahagiaannya di akhirat kelak. Tapi Allah kasi kita kesempatan untuk mendapat manfaat dari bershalawat. Sering-sering bershalawat, in syaa Allah kita akan dikenali Rasulullah. Kenal baik. Allah pun mencintai kita, karena senantiasa mendoakan kekasihNya. Para malaikat apalagi, bershalawat pula pada kita. Tak henti memohon pada Allah agar semua permohonan kita dikabulkan. Wallahu a'lam.
#writetobeuseful
Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 April 2017
Senin, 13 Februari 2017
Menyapa Lewat Doa
Bagaimana bisa saling sapa, bila nama pun belum ada.
Tapi aneh, rindu kadang datang memberi pesan.
Malam ini, ia hadir lagi.
Katanya, kau pun sedang mencari.
Hatimu tak lepas menerka-nerka.
Pernah kau jemu dan putus asa.
Lalu rindu menyelusup jiwamu memberi asa.
Rindu bilang, kau kadang kecewa dengan realita.
Lelahmu mencariku terbacanya.
Banyak yang kau kira aku, ternyata bukan.
Malas seketika hinggap di hatimu.
Kau jalani hari tanpa ingin mengingatku lagi.
Tapi tak lama, kau kembali terusik.
Lagi-lagi rindu mengganggu tidurmu.
Benar, tuan.
Rindu berkisah panjang malam ini.
Aku khusyu menyimak.
Tak kusadari gelakku memotong ceritanya.
Bayangan wajah kusutmu yang mengharapkanku bak mengharap kibasan udara sejuk AC di terik hari membuatku terbahak.
Kenal belum rindu denganmu.
Setelah kubujuk, rindu kembali berceloteh.
Kemarin malam, kau bangkit dari tempat tidur karena tak kunjung terlelap.
Akulah penyebab kau menderita insomnia.
Rindu mengawasimu hingga ke kamar mandi dan kembali ke pembaringan.
Kau duduk sejenak di tepinya.
Sesaat kemudian, kau sudah ada di atas sajadah.
Bersimpuh di hadapanNya memohon dipertemukan denganku.
Aku yang juga belum bernama.
Bagaimana bisa kau tinggalkan kasur empukmu untuk memintaku padaNya?
Bagaimana kau menyebutku di hadapanNya?
Bagaimana kita akan saling sapa?
Ah, kau masih tuan yang belum bernama.
Kini hatiku lah yang penuh tanya.
Ingin kutanya rindu, tapi ia tak lagi ada.
Mungkin sedang menujumu.
Cepat aku bangkit dari tidur dan membasuh muka.
Kulengkapi wudhu dan kukenakan mukena.
Aku pun akan memintamu padaNya.
Meski kau masih tuan yang belum bernama.
Semoga segera kita bisa saling sapa.
Tapi aneh, rindu kadang datang memberi pesan.
Malam ini, ia hadir lagi.
Katanya, kau pun sedang mencari.
Hatimu tak lepas menerka-nerka.
Pernah kau jemu dan putus asa.
Lalu rindu menyelusup jiwamu memberi asa.
Rindu bilang, kau kadang kecewa dengan realita.
Lelahmu mencariku terbacanya.
Banyak yang kau kira aku, ternyata bukan.
Malas seketika hinggap di hatimu.
Kau jalani hari tanpa ingin mengingatku lagi.
Tapi tak lama, kau kembali terusik.
Lagi-lagi rindu mengganggu tidurmu.
Benar, tuan.
Rindu berkisah panjang malam ini.
Aku khusyu menyimak.
Tak kusadari gelakku memotong ceritanya.
Bayangan wajah kusutmu yang mengharapkanku bak mengharap kibasan udara sejuk AC di terik hari membuatku terbahak.
Kenal belum rindu denganmu.
Setelah kubujuk, rindu kembali berceloteh.
Kemarin malam, kau bangkit dari tempat tidur karena tak kunjung terlelap.
Akulah penyebab kau menderita insomnia.
Rindu mengawasimu hingga ke kamar mandi dan kembali ke pembaringan.
Kau duduk sejenak di tepinya.
Sesaat kemudian, kau sudah ada di atas sajadah.
Bersimpuh di hadapanNya memohon dipertemukan denganku.
Aku yang juga belum bernama.
Bagaimana bisa kau tinggalkan kasur empukmu untuk memintaku padaNya?
Bagaimana kau menyebutku di hadapanNya?
Bagaimana kita akan saling sapa?
Ah, kau masih tuan yang belum bernama.
Kini hatiku lah yang penuh tanya.
Ingin kutanya rindu, tapi ia tak lagi ada.
Mungkin sedang menujumu.
Cepat aku bangkit dari tidur dan membasuh muka.
Kulengkapi wudhu dan kukenakan mukena.
Aku pun akan memintamu padaNya.
Meski kau masih tuan yang belum bernama.
Semoga segera kita bisa saling sapa.
Sabtu, 24 Desember 2016
Aku Tak Butuh Doanya
Dua hari lalu adalah 22 Desember. Hari ibu. Tapi bagiku, setiap hari adalah hari ibu. Tak lengkap hari tanpa mamak, begitu aku memanggil ibuku. Selalu terasa kurang bila sehari tak bersamanya; berbincang, boncengan naik kereta (sepeda motor), makan bersama, atau sekedar bertelepon saat sedang berjauhan. SMS-an tak pernah cukup kurasa, selalu ingin kudengar suaranya. Akan kupastikan nada suaranya menyiratkan bahagianya. Tak ada bahagia kurasa bila mamak tak bahagia.
Sedih yang kurasa mungkin menyiksaku. Tapi nyatanya, mamaklah yang paling menderita. Muka suramku membuatnya khawatir tak karuan. Lukaku telah sembuh, namun khawatirnya masih saja bersisa. Saat bahagia menyapaku, mamaklah yang paling berbunga-bunga. Wajah cerianya menyiratkan cinta yang tak terlukis untukku. Senyumku bagaikan madu baginya; manis dan menyehatkan jiwa.
Mamakku..tak pernah terlewat satu hari tanpa doa panjangnya untukku. Waktunya seakan habis untuk mendoakanku. Memohonkan kebaikan untukku. Bahagianya bahkan luput dari daftar doanya. Tak ada keinginannya, selain melihatku bahagia.
Seperti orang yang kekenyangan setelah disuguhi banyak makanan, begitulah aku memaknai doa mamak untukku. Tak butuh doanya bukan berarti aku tak mau didoakan lagi, tapi karena aku telah dibuat kenyang dengan doa-doa panjangnya untukku. Sebelum kuminta, mamak sudah memberi doa dan cintanya tanpa terbendung banyaknya.
Cintaku pada mamak mungkin takkan pernah bisa menyamai cinta mamak padaku, namun aku juga ingin mencinta. Mengucapkan selamat hari ibu bukanlah budaya di keluargaku, tapi berjuta doa kupanjatkan untuk mamak. Semua mimpi dan cita-citaku, kuikrarkan sebagai jalan membahagiakannya. Karena mamaklah yang paling berhak kubahagiakan dari siapapun di dunia ini.
Pada Allah selalu kumohon agar memberiku kemampuan dan kesempatan membahagiakan mamak. Memberi kami waktu panjang untuk bersama dalam bahagia. In syaa Allah.
#30DWCDay24
Sedih yang kurasa mungkin menyiksaku. Tapi nyatanya, mamaklah yang paling menderita. Muka suramku membuatnya khawatir tak karuan. Lukaku telah sembuh, namun khawatirnya masih saja bersisa. Saat bahagia menyapaku, mamaklah yang paling berbunga-bunga. Wajah cerianya menyiratkan cinta yang tak terlukis untukku. Senyumku bagaikan madu baginya; manis dan menyehatkan jiwa.
Mamakku..tak pernah terlewat satu hari tanpa doa panjangnya untukku. Waktunya seakan habis untuk mendoakanku. Memohonkan kebaikan untukku. Bahagianya bahkan luput dari daftar doanya. Tak ada keinginannya, selain melihatku bahagia.
Seperti orang yang kekenyangan setelah disuguhi banyak makanan, begitulah aku memaknai doa mamak untukku. Tak butuh doanya bukan berarti aku tak mau didoakan lagi, tapi karena aku telah dibuat kenyang dengan doa-doa panjangnya untukku. Sebelum kuminta, mamak sudah memberi doa dan cintanya tanpa terbendung banyaknya.
Cintaku pada mamak mungkin takkan pernah bisa menyamai cinta mamak padaku, namun aku juga ingin mencinta. Mengucapkan selamat hari ibu bukanlah budaya di keluargaku, tapi berjuta doa kupanjatkan untuk mamak. Semua mimpi dan cita-citaku, kuikrarkan sebagai jalan membahagiakannya. Karena mamaklah yang paling berhak kubahagiakan dari siapapun di dunia ini.
Pada Allah selalu kumohon agar memberiku kemampuan dan kesempatan membahagiakan mamak. Memberi kami waktu panjang untuk bersama dalam bahagia. In syaa Allah.
#30DWCDay24
Langganan:
Postingan (Atom)