Senin, 27 Maret 2017

Pesona Akal dan Akhlak

Memesona itu adalah saat akal dan akhlak berjalan bergandengan.
Ketika kecerdasan menjadi perhiasan.
Manakala kesantunan layaknya pakaian.

Tak ada pesona pada kepala yang enggan mencerna.
Berpuas dengan isinya yang sudah kadaluarsa.
Bukanlah pesona bila raga tak punya rasa.
Melihat dunia tanpa empati dan cinta.

Sungguh, akal dan akhlak adalah ukuran.
Seseorang digelari insan nan menawan.
Sebab pesona bukan hanya milik pemuda.
Asalkan keduanya masih bersisa.

Teruslah belajar, maka kau akan memesona selamanya.
Bersikap santunlah, hingga pesonamu menjangkau ridho-Nya.

#writetobeuseful

Selasa, 21 Februari 2017

Sembuh dan Menyembuhkan dengan Tulisan

Sesungguhnya menulis tidak butuh modal. Ide tulisan bisa digali dari pengalaman pribadi. Sesederhana apapun hidup seseorang, selalu ada hal menarik yang akan menjadi pelajaran untuk orang lain. Bila dikemas dengan baik, tulisan berdasarkan pengalaman bisa menyembuhkan si penulis (dengan mencurahkan isi hati), dan/atau si pembaca (dengan menginspirasi dan memotivasi). Sebagai langkah awal, fokuslah menyembuhkan diri sendiri. Setelah sukses, jangan mau sembuh sendiri. Bagikan tulisan 'obat'mu pada sebanyak-banyaknya pembaca. Kalau sudah begini, tulisanmu juga bernilai sedekah. In syaa Allah. 

Tulisan yang menyembuhkan adalah tulisan yang hadir dari hati. Jujur dan tidak mengada-ada. Yang hadir dari hati akan sampai pula ke hati. Adakah standar khusus? Tidak. Asal tulisan itu telah terbukti menyembuhkan si penulis, maka tulisan itu in syaa Allah akan menyembuhkan pembacanya. Atau bila si penulis sebenarnya tidak membutuhkan 'obat' itu, tulisan itu akan menyembuhkan bila diniatkan untuk memberi manfaat. Niat menjadi sangat penting karena akan berdampak pada kesan yang diciptakan. Kesan menggurui misalnya, hanya akan tampak bila ada kesombongan di hati. Menempatkan diri sebagai pembaca juga dapat menghilangkan kesan itu.

Tulisan-tulisan itu awalnya memang tak punya fokus. Karena sifatnya menulis apa saja yang dirasa. Tapi bila tulisan yang dihasilkan telah cukup banyak, kita akan menemukan benang merahnya. Selanjutnya, kumpulan tulisan itu bisa kita naik kelaskan menjadi buku. Jangan mundur hanya karena merasa tak ada kesuksesan yang bisa dituliskan. Kita bahkan bisa menuliskan kegagalan untuk menjadi pelajaran. Perkaya tulisan dengan menyampaikan penyebab kegagalan dan solusi mengatasinya. In syaa Allah 
tulisanmu bermanfaat. Bagaimana dengan pemilihan diksi? Tenang. Kemampuan itu akan terasah dengan banyak menulis. Yang penting luruskan niat dulu, karena ia umpama ruh bagi tulisan. Mulai dari manfaat, lalu poles sana-sini dengan diksi yang tepat. 

Menulis sebagai Terapi Jiwa
Kamu tentu masih ingat film Habibie&Ainun yang diangkat dari kisah nyata. Pak Habibie menuliskan ceritanya sebagai terapi jiwa. "Emang pak Habibie kenapa?" Setelah bu Ainun meninggal dunia, pak Habibie bukan lagi orang yang sama. Hatinya rapuh. Dokter memvonisnya menderita psikosomatis malignant. Beliau diberi 4 pilihan. Dirawat di rumah sakit jiwa, dirawat di rumah oleh tim medis Indonesia-Jerman, curhat kepada orang-orang terdekat, atau menulis. Pilihan keempat dipilihnya. Setelah menjadi tulisan, kisahnya justru menyembuhkan banyak pembaca. Banyak jiwa yang 'sembuh' dengan membaca tulisannya.

Ngartis Berbekal Curhat
Siapa tak kenal Raditya Dika? Komedian yang sukses dari tulisan-tulisan curhatnya yang dibukukan dan difilmkan. Seperti tak masuk akal, tapi kesuksesan memang diraihnya dari menulis curhatan. Sekarang Radit resmi bergelar penulis best seller nasional dan juga pemain film. Keren gak tuh? Dan semua bermula dari curhat di atas kertas.

Semua Bisa Menulis
Mungkin pak Habibie dan Raditya Dika dirasa terlalu jauh. Terkenal sih, tapi gak kenal. Makanya, mari menulis dan jadilah terkenal lewat tulisan. Caranya? Mulailah menulis dari hati. Kisahkah pengalaman hidupmu dan niatkan untuk menyembuhkan. Lalu, bagikan kisahmu ke sebanyak-banyaknya pembaca.  Jangan lupa, belajarlah dari kisah orang lain dengan banyak membaca. Dikenal karena tulisan yang menyembuhkan tentu membahagiakan. Bahagianya lagi, kau pun akan terkenal di antara makhluk langit (malaikat) karena tulisanmu bernilai kebaikan. Malaikat takkan sibuk hanya membicangkanmu. Mereka akan senantiasa mendoakanmu. Wallahu a'lam.

Saatnya menjadi penulis yang juga dokter. What Amazing You.

(Disarikan dari diskusi KOUF pertama alumni 30DWC jilid 3. Senin, 20 Februari 2017)

Senin, 13 Februari 2017

Menyapa Lewat Doa

Bagaimana bisa saling sapa, bila nama pun belum ada.
Tapi aneh, rindu kadang datang memberi pesan.
Malam ini, ia hadir lagi.
Katanya, kau pun sedang mencari.
Hatimu tak lepas menerka-nerka.
Pernah kau jemu dan putus asa.
Lalu rindu menyelusup jiwamu memberi asa.

Rindu bilang, kau kadang kecewa dengan realita.
Lelahmu mencariku terbacanya.
Banyak yang kau kira aku, ternyata bukan.
Malas seketika hinggap di hatimu.
Kau jalani hari tanpa ingin mengingatku lagi.
Tapi tak lama, kau kembali terusik.
Lagi-lagi rindu mengganggu tidurmu.

Benar, tuan.
Rindu berkisah panjang malam ini.
Aku khusyu menyimak.
Tak kusadari gelakku memotong ceritanya.
Bayangan wajah kusutmu yang mengharapkanku bak mengharap kibasan udara sejuk AC di terik hari membuatku terbahak.
Kenal belum rindu denganmu.

Setelah kubujuk, rindu kembali berceloteh.
Kemarin malam, kau bangkit dari tempat tidur karena tak kunjung terlelap.
Akulah penyebab kau menderita insomnia.
Rindu mengawasimu hingga ke kamar mandi dan kembali ke pembaringan.
Kau duduk sejenak di tepinya.
Sesaat kemudian, kau sudah ada di atas sajadah.
Bersimpuh di hadapanNya memohon dipertemukan denganku.

Aku yang juga belum bernama.

Bagaimana bisa kau tinggalkan kasur empukmu untuk memintaku padaNya?
Bagaimana kau menyebutku di hadapanNya?
Bagaimana kita akan saling sapa?
Ah, kau masih tuan yang belum bernama.
Kini hatiku lah yang penuh tanya.
Ingin kutanya rindu, tapi ia tak lagi ada.
Mungkin sedang menujumu.

Cepat aku bangkit dari tidur dan membasuh muka.
Kulengkapi wudhu dan kukenakan mukena.
Aku pun akan memintamu padaNya.
Meski kau masih tuan yang belum bernama.
Semoga segera kita bisa saling sapa.

Minggu, 12 Februari 2017

Relativitas Usia

September lalu, aku tepat berusia tiga puluh dua tahun. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hingga sampailah aku di angka ini. Bagi sebagian orang, angka 32 mungkin dianggap terlalu banyak, alias tua. Aih, tuakah aku? 

Tak kuhiraukan persepsi orang. Number is just number. Angka hanyalah angka. Tidak ada yang pasti tentang usia, selalu relatif. Kesehatan misalnya, bukan berarti yang muda lebih fit dibanding yang tua. Atau pengalaman, yang tua tidak selalu yang terkaya.

Pernikahan juga contoh yang menarik. Banyak yang sudah berumur tak menunjukkan tanda-tanda menuju pelaminan. Sementara yang muda sudah menggendong dan menggandeng anak di kiri-kanan. Bahkan soal kematian, tak ada jaminan bahwa yang muda akan hidup lebih lama. 

Kalau begitu, mengapa harus memusingkan usia? Biarlah ia bertambah, dengan kesadaran bahwa semakin berkuranglah jatah. 

Kamu usia berapa? Masih merasa muda atau sudah berasa tua? Ternyata, tua-muda adalah soal rasa.

Sabtu, 31 Desember 2016

Bakat vs Minat

Benarkah bakat adalah penentu kesuksesan? Apakah kesuksesan hanya milik mereka yang berbakat? Bagaimana dengan orang-orang yang sangat berminat namun kurang berbakat, akankah kesuksesan menjadi milik mereka juga?

Bakat memang kerap dihubungkan dengan kesuksesan, tapi bukanlah satu-satunya modal sukses. Banyak orang berbakat yang tak menjadi apa-apa karena hanya berdiam diri. Sebaliknya, tak sedikit orang minim bakat yang sukses karena kaya minat.

Minat yang mendominasi hati akan mengarahkan langkah menuju kesuksesan. Meski harus memulai langkah dari nol, perjalanan panjang menuju sukses juga bisa dinikmati. Hasil tentu menjadi tujuan, tapi proses adalah pengalaman.

Lalu, masihkah kita beranggapan bahwa bakat adalah segala-galanya dan minat tak menyumbang apa-apa? Ketahuilah, bakat yang terpendam adalah kesia-siaan. Pahamilah, minat plus perjuangan akan menghasilkan karya yang mencengangkan.

Jumat, 30 Desember 2016

Tulisan yang Menyembuhkan

Hari ini adalah hari terakhir kami menjalani 30DWC (30 Days Writing Challenge). Layaknya pelaksanaan puasa Ramadhan, besok adalah hari raya. Senang tentunya, karena kami bisa melewatinya dengan baik. Sedih juga ada, karena sudah terbiasa menulis bersama-sama.

Lebih dari rasa senang dan sedih, rasa khawatir menyelimutiku. Khawatir kebiasaan hebat ini berhenti sampai malam ini. Khawatir tidak mampu mengarahkan kebiasaan menulis untuk menghasilkan karya-karya terbaik. 

Menulis bagiku adalah mencurahkan isi hati, menyampaikan opini, atau membagikan pengalaman. Apapun isi tulisannya, yang penting adalah seberapa bermanfaat tulisan itu, bagiku (sebagai penulis) dan bagimu (sebagai pembaca). Aku menyebutnya 'tulisan yang menyembuhkan'. 

Sembuh dari rasa sakit, galau, kecewa, atau putus asa. Juga sembuh dari ketidaktahuan, keingintahuan, atau ke'salahtahu'an. Tak perlu jauh kucari ide; kutanya hati, kubuka pikiran, atau kubongkar memori. Semua sudah Allah beri, karena modal utama menulis adalah semangat memberi. 
#30DWCHari30




Kamis, 29 Desember 2016

Mengajar dan Menulis

Mengajar dan menulis adalah dua hal yang kugeluti saat ini. Keduanya bisa dilakukan berbarengan, bahkan saling mendukung. Sebagai dosen, tentu tugas utamaku adalah mengajar. Selain itu, ada pula tugas menulis yang diawali dengan meneliti.

Berdasarkan pengalaman, kedua aktivitas tersebut adalah yang paling nyaman dilakukan seorang perempuan. Sudah kualami bekerja dengan LSM di sebuah pulau. Menjadi media officer adalah hal seru untuk seorang fresh graduate sepertiku saat itu. Kendala justru datang dari keluarga, terutama bapak yang kurang setuju dengan keputusanku pergi jauh dari keluarga.

Selanjutnya, aku pernah magang sebagai wartawan selama 3 bulan. Kuputuskan mengakhiri perjalananku setelah masa magang berakhir karena dari sana kutahu bahwa selalu ada kepentingan yang diperjuangkan. Masalahnya, kepentingan mereka tak sejalan dengan kepentinganku.

Lagi-lagi, aku bekerja di media. Saat itu, di sebuah media online. Bertugas sebagai editor, aku bekerja dari pagi menjelang siang hingga malam hari. Setiap hari aku bekerja, bahkan di akhir pekan, meski tidak sepenuh hari. Saat itu, aku layaknya anak kos. Tinggal serumah dengan keluarga, tapi tak ada waktu untuk bercengkerama.

Setelah menyelesaikan S2 dan tak lagi nyaman bekerja sebagai karyawan, kuputuskan menjadi pendidik. Ingin cepat-cepat kuakhiri kerja 'malam'ku. Keselamatan harus selalu diutamakan, begitu pikirku. Langsung kusanggupi tawaran menjadi asisten dosen. Selang dua tahun, aku resmi menjadi dosen.

Kini, sambil mengajar, kunikmati lagi aktivitas merangkai kata. Kurajut lagi mimpi menulis buku. Kuteguhkan hati menjadi peneliti. Karena dosen memang harus meneliti dan menulis. Alhamdulillah fi kulli hal. Aku bersyukur untuk nikmat profesi yang Allah beri.

Bagiku, bahagia adalah saat melakukan hal yang kucintai. Mengajar dan menulis adalah dua hal yang kucintai. Tak pernah terasa sedang bekerja, karena hati hadir di sana. Harapanku adalah menjadi yang terbaik di keduanya. Menjadi sebaik-baik manusia dengan memberi sebanyak-banyak manfaat melalui keduanya. In syaa Allah.
#30DWCHari29